Waktu awal-awal kuliah dulu, sempat langganan majalah Technology Review-nya MIT. Dari situ jatuh cinta sama yang namanya ilustrasi bikinan James Yang yang ternyata memiliki gaya yang khas dan karyanya kerap muncul di majalah-majalah terkenal seperti Time, The Economist, Wired dll.
Kebetulan dalam rangka ngeblog di flexter ini (dan boser gambar comicstrip mulu) kemarin iseng bikin ilustrasi menggunakan software desain vector opensource Inkscape yang dijalankan di atas Ubuntu Linux. Kalau James Yang yang banyak terinspirasi oleh gaya detail sketsa Saul Steinberg atau gaya surealisnya Jean Miro, saya cuma bisa berekplorasi di bentuk sederhana sok imut dengan warna-warna pastel... yayaya karena keterbatasan skill tentunya :P
"Menulut aku, pahlawan masa sekalang adalah olang yang bisa membuat
lakyat negeli ini makmul. Membeli... memberrlli pekeljaan kepada banyak
olang. Tidak ada lagi olang miskin di negeli ini karlrena semuanya
bekelja.", bocah kecil beralis tebal itu terlihat bersusah payah
mengatasi kesulitannya mengucapkan huruf r.
"Bagus sekali Ikbal, silahkan duduk lagi. Sekarang Irza, bagaimana
pahlawan jaman sekarang menurut kamu?", Ibu Guru menggerakan jari ke
arah seorang anak gendut, menyuruh anak yang bernama Irza itu berdiri.
"Tadi malam aku tanya ke papa. Kata papa pahlawan masa sekarang itu
orang yang bisa membawa keadilan di negeri ini. Memberantas kejahatan
dan korupsi, supaya kita semua aman dan tidak dirugikan. Pokoknya
penegak hukum atau abdi negara yang hebat gitu deh Bu.", penjelasan
yang serius Irza tiba-tiba ditutup dengan gerakan menggaruk-garuk
kepala. Semua anak di kelas itu tersenyum melihat Irza terburu-buru
duduk karena merasa canggung harus menjelaskan sambil berdiri.
Ibu Guru segera menunjuk Anggun, seorang bocah perempuan berambut pendek.
"Yang bisa bikin orang-orang di negeri ini pintar. Para pemberi ilmu, dari guru TK sampai dosen atau siapapun yang ngebagi ilmunya kepada orang lain. Seperti Ibu Guru ini loh yang telah membuat kami jadi pintar."
Bagian akhir penjelasan Anggun yang sedikit memuji Ibu Guru membuat anak-anak lain bersorak. "Huuu Anggun cari muka."
Bocah perempuan itu tidak peduli, sambil duduk ia malah memalingkan muka ke barisan belakang sambil menjulurkan lidahnya.
"Achil?", Ibu Guru mempersilahkan seorang anak perempuan cantik beramut panjang yang dibalut sweater.
"Kalau bisa... menjaga hutan negeri ini tetap lestari... mencegah
polusi, menanam pohon dan menghemat energi... itu juga sosok...
pahlawan masa sekarang Bu.", suaranya sengau dan penjelasannya
terpotong-potong oleh usahanya menahan ingus di hidungnya.
"Kalau menurut Aan pahlawan masa depan itu harus canggih. Ilmuwan-ilmuwan
pintar yang bisa membawa negeri ini unggul dan terkenal di bidang
teknologi. Teknologi komputer, internet, kedokteran, luar angkasa dan
sebagainya. Pokoknya canggih.", anak berkacamata yang agak sok tahu itu
berdiri dan duduk tanpa dipersilahkan.
"Iya Aan. Semangat sekali dan bagus sekali isinya. Dan yang
terakhir, Kiki? Memang ini hari pertama kamu pindah ke sekolah ini, tapi
bisa kan menjelaskan menurut kamu pahlawan masa sekarang itu siapa sih?"
Anak yang bernama Kiki perlahan berdiri. Setelah terdiam sejenak ia
menarik nafas dalam-dalam, "Pahlawan masa
sekarang dan masa depan adalah kita semua, saat kita menjadi orang-orang hebat
seperti yang tadi disebutkan."

Subcribe RSS of this blog